Final Task, The Daily Post

Proposal

As a final student, I’m bussing with an activity called research. Before working at the laboratory, I’ve to make a proposal research. It contains three parts, i.e. introduction, literature review and formulation of hypothesis and research method.

Introduction
This part contains a background, formulation of problem, objective and benefit that arrange comprehensively. Introduction is described scientifically and directed chronologically to formulation of problem. When write down this part, I need to pay attention to all of citation that I used. All of citation that’s used in this part is all of citation that appear in the next part, literature review. And also, it depicts all of citation in the research. At this part, I’ve to input some previous research related to my research. Commonly, the researches have some lack. So that I want to improve using some innovation on it. Objective explains scientifically about goals through the research.

Literature review and formulation of hypothesis
Literature review is a deep description about the background. The previous research is written down again but I’ve to make opinion about it. Am I agree or disagree? And also give some explanation on it. The important point is all of the research connecting with my research. Another point that need attention is all of information has to selected. So that only necessary information that contain in literature review. Hypothesis is a tentative explanation of phenomenon. Formulation of hypothesis is related to research objective. Some opinion says that hypothesis is a tentative answer of objective. Because it’s tentative, so it’s needing to prove. Proving the hypothesis is done by write down a plan of research, what the conducted stage of research is.

Research method
This part is completely explanation of experiment stages. It comprises materials and instruments that’s used in research and also realisation procedure. All of materials is grouped based on function and grafted the quality and producer. Grafting producer is also done to all of instruments. Work procedure is written down completely, including quantities and units. Remember that it’s written using passive voice.

That’s the rule of writing a proposal research in my college. To write the full version of research, I just add the result and conclusion. Well, I think this rule commonly can applied to writing all kind of research. But, sometime there is another specific rule that need to pay attention to.

Iklan
https://unsplash.com/photos/SDprf7W3NUc
English of The Day, Lecture, The Daily Post, Uncategorized

“Feeding The World” – Why We Need Rice

Rice contains of carbohydrate, fat and protein. In our body, carbohydrate and fat are used to metabolism to get some energy. Protein is used to grow. Protein is hydrolisated become the compilers, they are amino acids. Protein in rice is incomplete protein because not all essential amino acids find on them. Lysine and threonin are two of amino acids that have limit content in rice. But nutrition of amino acid can we get by complemented rice with other protein sources i.e animal protein that contains all of essential amino acids to be flavorful dish.

Rice is connected to many cultural society, not only in Burma and Chinese. In Indonesia, especially in Java, we ever heard about Dewi Sri. She is the god of rice, a symbol of prosperity.

Rice has been grown and consumed in all over the world, but the most is in Asia. In Indonesia, rice self-supporting is done since era of Orde Lama. So that’s not weird if all Indonesian people from Sabang ‘till Merauke is more consume rice than another carbohydrate source i.e cassava, sago, corn, etc.

Rice intake will increase while increasing population of world. In other hands, a field to grow them isn’t lot enough. I ever heard that Japanese research has develop a cultivation method that’s not using a lot of field. Rice is grown like a potted plant. I think it can be studied again to solve the farming rice all over the world.

Global warming affects the farming rice each other. Some opinion say that the increase of global temperature cuts rice-growing time and ultra violet light radiation from the sun reduces tolerance to disease. On the other side, methane gas, one of the culprits of global warming, is, ironically, a by-product of wet lowland rice cultivation. Methane-producing bacteria thrive in wet rice fields and the plants themselves send the gas into the atmosphere. But I think contribution of farming rice to global warming isn’t lot enough if we compare them with air waste in industry.

The original article can accessed on this.

Random, The Daily Post, Uncategorized

It’s like a symphony just keep listening
And pretty soon you’ll start to figure out your part
Everyone plays a piece and there are melodies
In each one of us ohhh it’s glorious

Sometimes we stuck at the moment, feeling like everything that we do and get means nothing. Upsetting the past and worrying the future make a bad feeling to walk in reality today. Just like aimless, have no purposes.

In that time, we need to hear what our heart’s wanting to say. Maybe that sounds aren’t loud, just like slowly symphony. Keep listening, till you get your another aims, another new spirit to be the glorious you.

Random, Uncategorized

“Seseorang mengatakan padaku bahwa kita akan selalu bersama orang yang benar-benar kita cintai,” kataku. “Kalau kita tak bisa bersama mereka, berarti kita tidak benar-benar mencintai mereka. Itu hanya semacam selingan. Hanya perasaan yang berlangsung sekejap.”- Akai Fukue, Chokoréto dalam Beautiful Mistake.

Rasa itu akan hilang tak berbekas tergilas rutinitas. Aku sekali lagi tanpa kamu. Entah kamu yang mana yang ku tuju. Aku dan kamu-sekali lagi- tak bisa menjadi kita, atau menjadi kami ketika bertegur sapa dengan seorang teman. Aku tetaplah individu mandiri yang merayap di lantai bumi. Dan semua tentangmu, kuharap ku tak pernah tahu. Hanya aku ingin kamu menemukan cara menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Jodoh itu hanya manifestasi tentang relasi yang sedang dijalani saat ini. Demikian juga aku dan kamu. Kita berjodoh untuk menjadi kita, yang hanya sepasang teman, saat ini. Suatu ketika di masa mendatang, kita tak pernah tahu aku dan kamu akan menjadi apa, bukan?

Random, Uncategorized

KKN Bugelan?! : MANTAP JIWA

 

Tahun ini, saya berkesempatan menapaki sebuah desa di ujung Jawa Tengah bernama Bugelan. Desa Bugelan terletak di Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri. Desa ini berbatasan langsung dengan Pacitan dan Ponorogo. Bahkan untuk mencapai dua kota Jawa Timur tersebut relatif lebih cepat dibandingkan menuju pusat Kota Wonogiri.

desabugelan

Selama dua bulan menetap di Bugelan, saya tak sendiri. Dua puluh sembilan rekan mahasiswa menemani saya liburan semester dan lebaran di tanah orang ini, dalam rangka Kuliah Kerja Nyata. Tawa canda suka duka telah kami lewati. Cinta lokasi, tikungan menikung, dan gerakan bawah tanah telah dan sedang kami jalani.

Day 0 : keberangkatan menuju bugelan

A post shared by KKN-PPM UGM 2017 Desa Bugelan (@kknbugelan) on

Salam KKN UGM 17T-JTG101 edisi halal bi halal di tanah rantau #OTS7HALALBIHALAL

A post shared by KKN-PPM UGM 2017 Desa Bugelan (@kknbugelan) on

Cuaca yang dingin tidak menyurutkan niat kami untuk mengabdi. Kehangatan sambutan masyarakat desa membuat dingin itu tak berasa lagi. Walau terkadang angin pagi membuat kami menarik selimut tinggi-tinggi, pemandangan alam yang telah dikaruniakan Tuhan meluluhkan kami untuk menikmati.

Keindahan Curug Muncar di Desa Bugelan

A post shared by KKN-PPM UGM 2017 Desa Bugelan (@kknbugelan) on

Sunrise gunung besek @muh_syaifudin719 📷 :@ermansatyaaa Lokasi: Gunung Besek Kismantoro #kknugm2017 #wonogiri #explorewonogiri

A post shared by KKN-PPM UGM 2017 Desa Bugelan (@kknbugelan) on

Masjid induk Al Iman

A post shared by KKN-PPM UGM 2017 Desa Bugelan (@kknbugelan) on

Meski kabut seenaknya datang dan pergi, namun keindahaan alam Bugelan tak tertandingi.

Day 8 KKN-PPM UGM Hari ke 23 Ramadhan 17 juni 2017 Malem minggu di desa bugelan "Bintang di langit bugelan" 📷 : @ermansatyaaa

A post shared by KKN-PPM UGM 2017 Desa Bugelan (@kknbugelan) on

Bahkan sepinya malam khas desa membuat bintang siap siaga menemani.


Desa Bugelan dibagi menjadi empat dusun yaitu Bugelan, Cabol, Setren, dan Waru. Setiap dusun terdapat sekitar tujuh sampai delapan mahasiswa yang berkegiatan di sana. Berhubung bertepatan dengan Bulan Ramadhan, kegiatan TPA pun dilakukan meskipun sudah dipertengahan bulan.

Saya dan tujuh mahasiswa ditempatkan di Dusun Bugelan. Kegiatan TPA berlangsung lancar, meskipun awalnya ada rasa malu, sungkan, dan enggan diantara kita. Satu dua anak masih menggelendot manja bersama ayah atau ibunya. Ada yang berteriak, berlari kesana kemari, bahkan sampai tidak mau mengaji. Kegiatan ini diisi dengan membaca dan menulis Iqra’, bercerita tetang kisah-kisah Islami, hafalan doa sehari-hari, dan juga bernyanyi untuk menyemarakkan suasana.

Kegiatan TPA dimulai badha’ Ashar, namun banyak diantara mereka yang datang sejak jam 1 siang. Luar biasa bukan? Untuk mengisi waktu sebelum TPA, kami melakukan kegiatan kreatif seperti mewarnai dengan pastel, ataupun mewarnai dengan kertas perca. Puas bermain, kami belajar bahasa inggris bersama. Dan ketika memasuki waktu sholat, kami akan sholat berjamaah.

Meskipun kadang mereka menjengkelkan dan kami merasa belum sepenuhnya diterima oleh mereka, tapi ada perasaan sayang yang mulai muncul diantara kita. Ini terbukti ketika kami berpamitan untuk kembali ke Jogja. Kami jelas tersedu-sedu meninggalkan mereka dengan segala tingkah polahnya. Rindu menghantui kami. Dan tak disangka mereka pun merasakan hal yang sama.

47712.jpg


Kegiatan saya selanjutnya adalah Penyuluhan, Pemilahan, dan Pengolahan Sampah di Sekolah. Masyarakat di sini belum sepenuhnya sadar tentang kebersihan lingkungan. Sasaran program ini ialah siswa-siswi sekolah di Desa Bugelan, baik SD maupun SMP.

Program ini mengajarkan tentang sampah meliputi jenis, cara pemilahan, dan cara pengolahan. Target program ini adalah seluruh siswa SD dan SMP di Desa Bugelan. Jenis sampah yang diperkenalkan ialah sampah organik dan sampah anorganik. Penyuluhan dilakukan bersamaan dengan praktik pemilahan sampah. Pemilahan sampah sendiri dipraktikkan secara langsung oleh siswa melalui permainan. Permainan yang dilakukan ialah disediakan berbagai jenis sampah lalu siswa diminta membuangnya sesuai jenis. Pengolahan sampah yang dilakukan ialah pembuatan pot tanaman. Pembuatan pot dilakukan langsung oleh siswa dengan petunjuk dan pendampingan oleh tim KKN. Pot kemudian ditanami oleh berbagai jenis tanaman yang telah disiapkan.


Sejatinya masih banyak momen tak terlupakan bersama mereka. Ini sebagian kecil yang mengandung haru ketika dibicarakan. Pengalaman dua bulan ini tak akan terlupakan, karena ada cinta dan rindu di setiap ceritanya.

 

The Daily Post, Uncategorized

Menjadi lebih baik adalah pilihan masing-masing individu. Tapi itu mungkin belum menjadi pilihan saya saat ini.

Saya ragu akan menjadi apa saya nanti. Dengan hardskill dan softskill yang segini-gini saja, dengan lingkup pertemanan itu-itu saja, dengan mimpi-mimpi yang hanya terus membayangi. Saya ragu akan menjadi apa, betulan.

Saya tengah menjalani tahun ketiga dunia perkuliahan. Episode semester ini saya benar-benar menjadi mahasiswa kupu-kupu dan apatis terhadap apapun, bahkan kesehatan saya. Saya merasakan malas luar biasa dalam diri saya. Belajar, mengerjakan tugas, membaca, menulis yang sudah sejatinya menjadi kewajiban seorang mahasiswa sering saya lalaikan. Mandi, makan, bertukar sapa dengan orang lain, yang menjadikan manusia itu hidup, saya kadang enggan.

Bukan tanpa alasan sejatinya, hanya saja saya takut mengungkapkan alasan tersebut. Entah malu, entah tak tahu harus bagaimana, saya enggan mengungkapkannya kepada siapapun bahkan kepada diri sendiri. Hobi saya saat ini hanya tidur, karena dengan tidur saya melupakan setiap detail kekecewaan yang saya rasakan, melupakan setiap alasan kenapa saya begini, dan kembali mengingat wajah yang selalu ku rindu.

Better

Lecture, The Daily Post, Uncategorized

Childhood, Anxiety and Mood

The experience of childhood life events is associated with higher vulnerability to develop psychiatric disorders. One of the pathways suggested to lead to this vulnerability is activation of the immune system. The aim of this study is to find out whether the association between childhood life events and the development of mood and anxiety disorders is predicted by the activation of the immune system. This study was performed in TRAILS, a large prospective population cohort, from which a subgroup was selected (N = 1084, 54.3% female, mean age 19.0 (s.d., 0.6)). Childhood life events before age 16 were assessed using questionnaires at age 12, 14, 16 and 19. Immune activation was assessed at age 16 by elevated high-sensitive C-reactive protein (hsCRP) and by levels of immunoglobulin G antibodies against the herpes viruses herpes simplex virus 1, cytomegalovirus and Epstein–Barr virus. At age 19, the presence of mood and anxiety disorders was determined using the World Health Organization Composite International Diagnostic Interview Version 3.0. Regression analyses were used to study the association between life events, the inflammatory markers and mental health. We found that childhood life events score was associated with risk of mood disorders (B = 0.269, Po0.001) and anxiety disorders (B = 0.129, Po0.001). Childhood life events score was marginally associated with elevated hsCRP (B = 0.076, P = 0.006), but not with the antibody levels. This was especially due to separation trauma (P = 0.015) and sexual abuse (P = 0.019). Associations lost significance after correcting for lifestyle factors such as body mass index and substance abuse (P = 0.042). None of the inflammatory markers were associated with development of anxiety disorders or mood disorders. In conclusion, the life event scores predicted the development of anxiety disorders and mood disorders at age 19. Life event scores were associated with elevated hsCRP, which was partly explained by lifestyle factors. Elevated hsCRP was not associated with the development of psychiatric disorders at age 19.

Selengkapnya : Childhood life events, immune activation and the development of mood and anxiety disorders: the TRAILS study

Lifestyle

The Daily Post, Uncategorized

Sabtu lalu saya mengerjakan tugas di perpustakaan universitas. Tidak seperti hari kerja yang buka pukul 07.30-19.45, perpustakaan akan tutup pukul 16.00. Dua puluh menit sebelum tutup saya sudah berkemas-kemas karena kadang saya sebal dengan suara “ting tung ting tung” yang mengode pengunjung untuk bergegas.

Sepulangnya dari perpustakaan, saya mampir membeli makan di Warung Padang. Entah makan siang atau makan malam, anak kos ini bahkan lupa sebutannya karena saking seringnya merapel waktu makan. Waktu itu seingat saya masih ada sepasang lembaran dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan di kantong tas. Dengan percaya diri saya memesan nasi dan ayam goreng. Pesanan pun siap, tapi tiba-tiba saya panik. Lembaran uang tadi raib. Saya mencari di tiap-tiap kantong tapi nihil. Alhasil saya berdalih uang saya tertinggal. Dengan setengah tertawa dan setengah prihatin, mas  penjaga warung mengizinkan membawa makanan tersebut. Saya menolaknya halus lantas berpamitan untuk mengambil uang. As soon as possible saya kembali ke warung dan mendapati mas tadi tersenyum melihat saya seolah berkata, “Oh mbak yang tadi..”.

Panicked