The Daily Post, Uncategorized

Sabtu lalu saya mengerjakan tugas di perpustakaan universitas. Tidak seperti hari kerja yang buka pukul 07.30-19.45, perpustakaan akan tutup pukul 16.00. Dua puluh menit sebelum tutup saya sudah berkemas-kemas karena kadang saya sebal dengan suara “ting tung ting tung” yang mengode pengunjung untuk bergegas.

Sepulangnya dari perpustakaan, saya mampir membeli makan di Warung Padang. Entah makan siang atau makan malam, anak kos ini bahkan lupa sebutannya karena saking seringnya merapel waktu makan. Waktu itu seingat saya masih ada sepasang lembaran dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan di kantong tas. Dengan percaya diri saya memesan nasi dan ayam goreng. Pesanan pun siap, tapi tiba-tiba saya panik. Lembaran uang tadi raib. Saya mencari di tiap-tiap kantong tapi nihil. Alhasil saya berdalih uang saya tertinggal. Dengan setengah tertawa dan setengah prihatin, mas  penjaga warung mengizinkan membawa makanan tersebut. Saya menolaknya halus lantas berpamitan untuk mengambil uang. As soon as possible saya kembali ke warung dan mendapati mas tadi tersenyum melihat saya seolah berkata, “Oh mbak yang tadi..”.

Panicked

Iklan