The Daily Post, Uncategorized

((M-A-G-A-N-G))

Januari lalu, saya melakukan praktik kerja lapangan atau biasa disebut magang. Sebagai mahasiswa jurusan Kimia yang (saat itu) tertarik di bidang lingkungan, saya memilih melakukan magang di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Boyolali. Bukan pilihan utama, sejatinya pengelolaan limbah B3 di salah satu perusahaan-lah yang saya incar. Hanya saja, terbentur ini itu yang menyebabkan saya harus kembali ke kampung halaman.

Bayangan bekerja dengan jas laboratorium mentereng dengan logo UGM hilang begitu saya sampai di sana. Dinas Lingkungan Hidup yang menjadi tonggak utama dalam monitoring lingkungan tidak memiliki laboratorium lingkungan terakreditasi. Jangankan terakreditasi, sebuah bangunan berlabel laboratorium pun harus rela dijadikan ruangan kantor akibat penambahan sub-unit atau bidang di dinas ini. Alat dan bahan laboratorium ditata sekenanya di gudang. Tidak adanya aktivitas laboratorium menyebabkan saya melongo berkepanjangan, menanyakan ke sana ke mari tentang apa tema yang akan saya angkat untuk magang ini.

Absennya laboratorium lingkungan membuat saya diberikan tugas khusus untuk merancangnya. Ya, meskipun dengan observasi dan wawancara sekadarnya. Tepat sehari sebelum masa magang berakhir, saya sudah meletakan laporan itu di atas meja Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup. Tetapi, ini bukan akhir. Saya masih harus berjuang menyelesaikan laporan yang akan saya ajukan ke jurusan. Selama sebulan masa magang, yang terhitung dua puluh hari saja, saya menimbang-nimbang tema apa yang bisa saya ajukan. Browsing sana sini, tanya satu dosen ke dosen lain, akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan judul “Analisis Status Mutu Air Sungai Gandul Kabupaten Boyolali”.

Status Mutu Air dianalis melalui suatu metode menggunakan data sekunder parameter uji. Dengan adanya status mutu air, harapannya masyarakat umum dapat mengetahui keadaan atau kualitas dari air sungai. Analisis status mutu air Sungai Gandul dilakukan untuk data tahun 2016 di lokasi hulu dan hilir. Metode yang saya gunakan sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup yaitu metode Indeks Pencemaran. Sebenarnya ada juga metode Storet, namun metode tersebut (katanya) tidak cukup baik untuk penentuan status mutu air. Dinas Lingkungan Hidup juga tidak memakai metode tersebut. Terlebih lagi, saya tidak cukup paham menggunakan metode tersebut. Di samping itu, saya mencoba mengaplikasikan ilmu Kemometri semester lalu untuk menganalisis perbedaan kualitas air sungai di daerah hulu dan hilir. Hasilnya saya lupa seperti apa. Bukan karena laporan itu sudah selesai, namun tepatnya laporan itu belum terselesaikan akibat kemalasan saya. Bila dirunut ke depan, sebentar lagi saya memasuki akhir semester. Pun harus dihadapkan dengan proposal KKN, proposal skripsi yang harus dikompetisikan akibat tak ada proyek dosen, dan proyek PKM yang sebenarnya saya hanya tim hore.

Tapi ya harus semangat!

Gagal, jika hanya berhenti

Gitu kutipan status sosial media salah seorang kakak tingkat

Apprentice

Iklan