The Daily Post, Uncategorized

Menjadi lebih baik adalah pilihan masing-masing individu. Tapi itu mungkin belum menjadi pilihan saya saat ini.

Saya ragu akan menjadi apa saya nanti. Dengan hardskill dan softskill yang segini-gini saja, dengan lingkup pertemanan itu-itu saja, dengan mimpi-mimpi yang hanya terus membayangi. Saya ragu akan menjadi apa, betulan.

Saya tengah menjalani tahun ketiga dunia perkuliahan. Episode semester ini saya benar-benar menjadi mahasiswa kupu-kupu dan apatis terhadap apapun, bahkan kesehatan saya. Saya merasakan malas luar biasa dalam diri saya. Belajar, mengerjakan tugas, membaca, menulis yang sudah sejatinya menjadi kewajiban seorang mahasiswa sering saya lalaikan. Mandi, makan, bertukar sapa dengan orang lain, yang menjadikan manusia itu hidup, saya kadang enggan.

Bukan tanpa alasan sejatinya, hanya saja saya takut mengungkapkan alasan tersebut. Entah malu, entah tak tahu harus bagaimana, saya enggan mengungkapkannya kepada siapapun bahkan kepada diri sendiri. Hobi saya saat ini hanya tidur, karena dengan tidur saya melupakan setiap detail kekecewaan yang saya rasakan, melupakan setiap alasan kenapa saya begini, dan kembali mengingat wajah yang selalu ku rindu.

Better

Iklan
Lecture, The Daily Post, Uncategorized

Childhood, Anxiety and Mood

The experience of childhood life events is associated with higher vulnerability to develop psychiatric disorders. One of the pathways suggested to lead to this vulnerability is activation of the immune system. The aim of this study is to find out whether the association between childhood life events and the development of mood and anxiety disorders is predicted by the activation of the immune system. This study was performed in TRAILS, a large prospective population cohort, from which a subgroup was selected (N = 1084, 54.3% female, mean age 19.0 (s.d., 0.6)). Childhood life events before age 16 were assessed using questionnaires at age 12, 14, 16 and 19. Immune activation was assessed at age 16 by elevated high-sensitive C-reactive protein (hsCRP) and by levels of immunoglobulin G antibodies against the herpes viruses herpes simplex virus 1, cytomegalovirus and Epstein–Barr virus. At age 19, the presence of mood and anxiety disorders was determined using the World Health Organization Composite International Diagnostic Interview Version 3.0. Regression analyses were used to study the association between life events, the inflammatory markers and mental health. We found that childhood life events score was associated with risk of mood disorders (B = 0.269, Po0.001) and anxiety disorders (B = 0.129, Po0.001). Childhood life events score was marginally associated with elevated hsCRP (B = 0.076, P = 0.006), but not with the antibody levels. This was especially due to separation trauma (P = 0.015) and sexual abuse (P = 0.019). Associations lost significance after correcting for lifestyle factors such as body mass index and substance abuse (P = 0.042). None of the inflammatory markers were associated with development of anxiety disorders or mood disorders. In conclusion, the life event scores predicted the development of anxiety disorders and mood disorders at age 19. Life event scores were associated with elevated hsCRP, which was partly explained by lifestyle factors. Elevated hsCRP was not associated with the development of psychiatric disorders at age 19.

Selengkapnya : Childhood life events, immune activation and the development of mood and anxiety disorders: the TRAILS study

Lifestyle

The Daily Post, Uncategorized

Sabtu lalu saya mengerjakan tugas di perpustakaan universitas. Tidak seperti hari kerja yang buka pukul 07.30-19.45, perpustakaan akan tutup pukul 16.00. Dua puluh menit sebelum tutup saya sudah berkemas-kemas karena kadang saya sebal dengan suara “ting tung ting tung” yang mengode pengunjung untuk bergegas.

Sepulangnya dari perpustakaan, saya mampir membeli makan di Warung Padang. Entah makan siang atau makan malam, anak kos ini bahkan lupa sebutannya karena saking seringnya merapel waktu makan. Waktu itu seingat saya masih ada sepasang lembaran dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan di kantong tas. Dengan percaya diri saya memesan nasi dan ayam goreng. Pesanan pun siap, tapi tiba-tiba saya panik. Lembaran uang tadi raib. Saya mencari di tiap-tiap kantong tapi nihil. Alhasil saya berdalih uang saya tertinggal. Dengan setengah tertawa dan setengah prihatin, mas  penjaga warung mengizinkan membawa makanan tersebut. Saya menolaknya halus lantas berpamitan untuk mengambil uang. As soon as possible saya kembali ke warung dan mendapati mas tadi tersenyum melihat saya seolah berkata, “Oh mbak yang tadi..”.

Panicked

Lecture, The Daily Post, Uncategorized

Temperature-Controlled Growth of Single-Crystal Pt Nanowire Arrays for High Performance Catalyst Electrodes in Polymer Electrolyte Fuel Cells

Temperatur sintesis memberikan pengaruh yang penting dalam pertumbuhan Pt nanowire pada karbon. Temperatur 40°C merupakan temperatur optimum Pt nanowire agar dapat tumbuh seragam. Difusi gas elektroda Pt nanowire memiliki aktivitas dan daya tahan yang baik. Metode ini disarankan untuk penentuan pengaruh temperatur dalam pertumbuhan Pt nanowire.

The anisotropic structure and unique surface properties of one-dimensional (1D) Pt-nanowire (PtNW) make it a promising new type of electrocatalyst for various catalyst applications, especially for fuel cells. However, due to the critical synthesis process, a finely tuning of the synthesis temperature for precisely controlling the morphology and distribution of PtNWs in catalyst electrodes still remains a grand challenge. In this work, we present the temperature-controlled growth of PtNWs with large-area 16 cm2 carbon paper piece as a direct support. The relationship between the growth temperature and PtNW behavior is studied by physical characterization, and their catalytic activity is measured towards oxygen reduction reaction (ORR) by testing as the cathode in a hydrogen-air fuel cell. The results show that the growth temperature plays a vital role on the behavior of PtNWs thus influencing their properties. The catalyst electrode with PtNWs grown at 40 °C shows the best power performance. A possible mechanism for the influence of temperature on PtNW growth is suggested. The comparison with the state-of-the-art commercial TKK catalyst also shows a better performance and durability. The understanding gained in our work from PtNW catalyst electrode could aid in the design of other novel nanostructures in practical applications.

Selengkapnya : Temperature-Controlled Growth of Single-Crystal Pt Nanowire Arrays for High Performance Catalyst Electrodes in Polymer Electrolyte Fuel Cells

Control

The Daily Post, Uncategorized

((M-A-G-A-N-G))

Januari lalu, saya melakukan praktik kerja lapangan atau biasa disebut magang. Sebagai mahasiswa jurusan Kimia yang (saat itu) tertarik di bidang lingkungan, saya memilih melakukan magang di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Boyolali. Bukan pilihan utama, sejatinya pengelolaan limbah B3 di salah satu perusahaan-lah yang saya incar. Hanya saja, terbentur ini itu yang menyebabkan saya harus kembali ke kampung halaman.

Bayangan bekerja dengan jas laboratorium mentereng dengan logo UGM hilang begitu saya sampai di sana. Dinas Lingkungan Hidup yang menjadi tonggak utama dalam monitoring lingkungan tidak memiliki laboratorium lingkungan terakreditasi. Jangankan terakreditasi, sebuah bangunan berlabel laboratorium pun harus rela dijadikan ruangan kantor akibat penambahan sub-unit atau bidang di dinas ini. Alat dan bahan laboratorium ditata sekenanya di gudang. Tidak adanya aktivitas laboratorium menyebabkan saya melongo berkepanjangan, menanyakan ke sana ke mari tentang apa tema yang akan saya angkat untuk magang ini.

Absennya laboratorium lingkungan membuat saya diberikan tugas khusus untuk merancangnya. Ya, meskipun dengan observasi dan wawancara sekadarnya. Tepat sehari sebelum masa magang berakhir, saya sudah meletakan laporan itu di atas meja Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup. Tetapi, ini bukan akhir. Saya masih harus berjuang menyelesaikan laporan yang akan saya ajukan ke jurusan. Selama sebulan masa magang, yang terhitung dua puluh hari saja, saya menimbang-nimbang tema apa yang bisa saya ajukan. Browsing sana sini, tanya satu dosen ke dosen lain, akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan judul “Analisis Status Mutu Air Sungai Gandul Kabupaten Boyolali”.

Status Mutu Air dianalis melalui suatu metode menggunakan data sekunder parameter uji. Dengan adanya status mutu air, harapannya masyarakat umum dapat mengetahui keadaan atau kualitas dari air sungai. Analisis status mutu air Sungai Gandul dilakukan untuk data tahun 2016 di lokasi hulu dan hilir. Metode yang saya gunakan sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup yaitu metode Indeks Pencemaran. Sebenarnya ada juga metode Storet, namun metode tersebut (katanya) tidak cukup baik untuk penentuan status mutu air. Dinas Lingkungan Hidup juga tidak memakai metode tersebut. Terlebih lagi, saya tidak cukup paham menggunakan metode tersebut. Di samping itu, saya mencoba mengaplikasikan ilmu Kemometri semester lalu untuk menganalisis perbedaan kualitas air sungai di daerah hulu dan hilir. Hasilnya saya lupa seperti apa. Bukan karena laporan itu sudah selesai, namun tepatnya laporan itu belum terselesaikan akibat kemalasan saya. Bila dirunut ke depan, sebentar lagi saya memasuki akhir semester. Pun harus dihadapkan dengan proposal KKN, proposal skripsi yang harus dikompetisikan akibat tak ada proyek dosen, dan proyek PKM yang sebenarnya saya hanya tim hore.

Tapi ya harus semangat!

Gagal, jika hanya berhenti

Gitu kutipan status sosial media salah seorang kakak tingkat

Apprentice

Lecture, The Daily Post, Uncategorized

Yarn

Kemajuan ilmu dan teknologi semakin pesat. Manusia tak habis kreativitasnya dalam membuat segala sesuatu menjadi semakin mudah. Penemuan dan pengembangan ide diaplikasikan menjadi suatu piranti yang mumpuni. Salah satunya benang –yarn. Bukan sembarang jenis benang, benang ini merupakan pengembangan dari carbon nanotube (CNT), karbon yang berukuran nano berbentuk silinder berongga.

Nanopartikel memang sedang menjadi primadona di kancah penelitian berbasis anorganik dan fisik. Sifat nanopartikel yang berbeda secara signifikan terhadap sifat asli dari material digadang-gadang memiliki nilai manfaat dan ekonomi yang tinggi. CNT, misalnya. Karbon acapkali digunakan sebagai elektroda karena sifatnya yang inert, pun demikian dengan CNT. CNT yang berupa filamen dibentuk menjadi yarn, memiliki kapasitas elektroda yang tinggi dibandingkan dengan karbon biasa.

CNT yarn terdiri dari filamen-filamen CNT. CNT yarn diyakini memiliki kapasitas yang tinggi sebagai elektroda karena sifatnya yang fleksibel, konduktif dan kuat. CNT yarn diharapkan dapat diaplikasikan pada sel elektrokimia air, dimana sel ini dapat menghasilkan H2 sebagai bahan bakar yang renewable.

Selengkapnya : Carbon nanotube yarns as strong flexible conductive capacitive electrodes

Yarn